Barang-Barang yang Mulai Punah : KOMITMEN

Nampaknya akhir-akhir ini dunia lagi benar-benar membutuhkan komitmen. Persediaan komitmen sudah sangat langka dan kalaupun ada harganya pun sangat mahal adanya. Komitmen dibutuhkan dalam segala aspek dan segala bidang mau itu bidang ekonomi, politik, budaya, sosial, pertahanan keamanan. Komitmen merupakan barang mewah yang dicari-cari mulai dari istana hingga rumah-rumah kumuh. Komitmen adalah hal yang diburu hampir semua kalangan mulai dari pemimpin negara hingga guru desa. Tidak ada satu bidangpun, orang pun, posisi pun yang tidak butuh apa yang kita sebut sebagai komitmen itu.



Memasuki tahun 2010 ini, komitmen menjadi barang yang mulai memasuki kategori 'punah' -- semakin langka dari pasaran yang ada. Bahkan tak jarang ada banyak orang yang tidak 'kenal' apa itu komitmen. Beberapa diantaranya bahkan suka memperdagangkan 'komitmen' dengan dicampur-campur dengan bahan lain menjadi KOMPLOS : Komitmen Oplosan. Komitmen jenis ini benar-benar tidak murni lagi adanya karena nilai sejatinya sudah tak ada.



Tentunya komitmen yang saya maksud disini bukanlah sesuatu dalam bentuk barang yang bisa dicari di toko-toko / supermarket terdekatmu. Ia bukan suatu gift/karunia yang hanya ada dan diberikan pada orang-orang tertentu saja. Ia juga bukan suatu hal yang mustahil untuk didapatkan dan dibentuk. Komitmen terbentuk dari keteguhan hati untuk melakukan apa yang ia yakini sebagai sesuatu yang benar, bernilai dan berharga secara konsisten tanpa dipengaruhi oleh keadaan yang ada.



Lebih mudah menulis artikel dan teori-teori tentang bagaimana menjadi orang yang berkomitmen daripada menjadi orang yang berkomitmen itu sendiri. Nilainya terlalu tinggi, harga yang harus dibayar terlalu mahal dan tidak jarang mereka yang berkomitmen adalah mereka yang harus menyangkal dirinya dan melawan ego sendiri. Tidak ada komitmen yang terbentuk dalam kondisi aman dan nyaman. Kalaupun ada itu bukanlah komitmen yang sesungguhnya, komitmen seperti ini biasanya tidak bertahan lama.



Saya teringat dengan artikel kata-kata bijak mengenai komitmen yang membuat saya berpikir kembali sesungguhnya apa itu komitmen sendiri :



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami menerima istrinya dengan segala kekurangan dan kelemahannya tanpa menghakimi. Bersyukur ketika istrinya tampil menawan, dan sama bersyukurnya ketika sang istri mengenakan daster dengan wajah berminyak tanpa make-up. Bersyukur ketika bentuk tubuh sang istri berubah setelah melahirkan, dan tetap mengecupnya sayang sambil bilang, "Kamu cantik."



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang suami tidak membongkar kelemahan istrinya pada orang lain. Sebaliknya, menutupi rapat-rapat setiap kekurangan itu dan dengan bangga bertutur bahwa sang istri adalah anugerah terindah yang pernah hadir dalam hidupnya.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri menunggui suaminya pulang hingga larut malam, membuatkan teh hangat dan makanan panas, dan tetap terbangun untuk menemani sang suami bersantap serta mendengarkan cerita-ceritanya yang membosankan di kantor.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri bertahan ketika suaminya jatuh sakit, dan dengan sukacita merawatnya setiap hari. Menghiburnya, menemaninya, menyuapinya, memandikannya, membersihkan kotorannya.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang istri terus mendampingi suaminya tanpa mengeluh atau mengomel. Sebaliknya, dengan setia tetap mendukung dan menyemangati meski sang suami pulang ke rumah dengan tangan kosong, tanpa sepeser uang pun.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat sepasang suami istri memutuskan untuk terus mengikatkan diri dalam pernikahan, dengan tulus dan sukacita, meskipun salah satu dari mereka tidak bisa memberikan anak.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat putra pelaku kriminal berkata kepada Ayahnya, "Saya percaya pada Papa. Papa tetap yang terbaik."



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang yang bergelar S3 dengan jabatan direktur perusahaan multinasional pulang ke rumah orangtuanya, mencium mereka dengan hormat, serta memanggil mereka 'Ayah' dan 'Ibu'.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ayah menerima kembali anaknya yang telah menyakiti dan meninggalkannya begitu rupa dengan tangan terbuka, memeluknya dan melupakan semua kesalahan yang pernah dilakukan si anak terhadapnya.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang Ibu mengelus sayang anak yang pernah mencacinya, dan tetap mencintainya tanpa syarat.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang mengulurkan tangan kepada sahabatnya yang terjerembab, menariknya berdiri dan membantunya berjalan tanpa mengatakan, "Tuh, apa kubilang! Makanya."



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seorang pekerja menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik, sekalipun tugas itu amat berat dan upah yang diperoleh tidak sepadan.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang membulatkan hati dan tekad demi mencapai sebuah tujuan, sekalipun ia belum dapat mengetahui hasil akhir dari tujuan tersebut. Berjerih payah dan berkorban demi menyelesaikan tujuannya, sekalipun semua orang meninggalkannya.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang rela meninggalkan segala sesuatu yang berharga demi memenuhi panggilan hidupnya, walau harga yang harus dibayar tidak sedikit dan medan yang ditempuh tidak ringan.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang memikul resiko dan konsekuensi dari keputusannya tanpa mengeluh, dan menjalaninya dengan penuh rasa syukur sebagai bagian dari kehidupan yang terus berproses.



Komitmen adalah sesuatu yang membuat seseorang berani setia dan percaya, meski harapannya tidak kunjung terpenuhi dan tidak ada yang dapat dijadikan jaminan olehnya.



Komitmen adalah sesuatu yang melampaui segala bentuk perbedaan, perselisihan dan pertengkaran. Ia tidak dapat dihancurkan oleh kekurangan, kelemahan maupun keterbatasan lahiriah. karena ketika kita berani mengikatkan diri dalam sebuah komitmen, kita telah 'mati' terhadap kepentingan diri sendiri.


Izinkan saya menyimpulkan tulisan ini dengan kalimat seorang perempuan bijak yang saya temukan beberapa waktu lalu:



"In the final analysis, commitment means: 'Here I am. You can count on me. I won't fail you.'"





Berbisnis di Ebay dengan cara Dropshipping

Saat ini Ebay merupakan 'pasar' online terbesar di dunia. Sebagaimana layaknya sebuah pasar, orang berkunjung di Ebay hanya mempunyai dua tujuan utama, yaitu membeli atau menjual, atau bahkan dua-duanya, menjadi pembeli sekaligus menjadi penjual. Dan bisa dipastikan, traffic pengunjung ke Ebay semakin meningkat dari hari ke hari, begitu pula dengan produk yang diperjual belikan, semakin variatif.

Hari Minggu pertama di Minggu pertama 2011

Pagi ini, hari minggu pertama di minggu pertama tahun 2011.

Sudah berencana bangun jam 6 pagi. Sudah pasang alarm di HP. HP pun sudah diletakkan di samping kepala. Tidak mungkin tidak bangun, pikirku.

Ternyata aku salah. Rencanaku meleset ...

Alarm HP sama sekali tak kuhiraukan. Alarm itu memang berseru pada jam 6 pagi, tapi aku langsung membuatnya terdiam. Sebentar saja. Masih mau baring-baring bentar. 5 menit. Mata ini pun perlahan menutup.

Sayangnya ternyata aku salah. Perkiraanku meleset ...

Tidak ada 5 menit. Mendadak aku terbangun dari mimpi kilat. Segera kulihat jam di HP. 6.50 AM ! Itu berarti hampir 1 jam mata ini tidak sengaja tertutup.

Astaga ! Pasti akan sangat telat ke gereja. Malah jauh pula ...

Sambil terburu-buru sarapan pagi (sempetin sepotong roti untuk ganjel perut lah), minum MILO segelas, langsung mandi kilat, "go-gi" & siap-siap ke gereja. Pelupuk mata ini masih sempat melihat ke jam yang diam di dinding, 7.05 AM ! Astaga..

Sambil berjalan mencari angkutan umum, hati ini terus berbicara, "Pasti telat banget nih, sampe sana harusnya jam 8". "Pasti telat ! Ga mungkin enggak !" Sambil kaki ini melangkah, sambil menyesal sangat karena bangun kesiangan dan pakai acara meremin mata sejenak pula.

Sampe depan jalan raya, wah itu angkot M25 lewat aje di depan mata. "Yaah !" Beda beberapa detik aja padahal. Fiuh, sambil membuang nafas dan mulai menunjukkan tanda-tanda bersungut-sungut. Syukurnya tak beberapa lama kemudian, angkot M25 muncul lagi. Kali ini kosong. "Naik engga yah ? Naik ga, naik ga", hati ini bergumul. Akhirnya kupaksakan kaki ini melangkah naik. Kenapa perlu bergumul seperti itu ? Untuk mereka yang hidup bersama angkot pasti cukup ngerti. Angkot itu sukanya ngetem. Lha wong yang penumpangnya ada aja masih suka ngetem & jalan lambreta, apalagi ini KOSONG ! Bakal hobi ngetem dah. Pikiranku bersuara : "Sudahlah, toh sudah pasti telat ini. Ga mungkin you bisa datang tepat waktu gitu. Mustahil."

Ternyata aku salah. Pengalamanku meleset ...

Angkot ini sama sekali tidak ngetem. Sama sekali tidak ! Sang sopir pun mengendarai mobilnya dengan cukup cepat. Tidak ada lambreta. Ga seperti biasanya. Heran bercampur syukur. "Thanks God, paling ga aku ga telat-telat banget lah ke gereja". Jam menunjukkan pukul 7.15 ketika ia belok memasuki kawasan Green Ville, sebelah KFC. Jalanan menuju gereja memang cukup parah dan rusak di depan-depannya sehingga setiap kendaraan pasti akan berjalan perlahan-lahan. Well, not bad God. Paling ga telatnya bisa berkurang 15 menit lah jadi 7.45..

Ternyata aku salah. Perhitunganku meleset ...

Entah jam berapa aku sampai di gereja (sudah ga sempet lihat jam lagi saking buru-buru). Yang jelas masih sempat ke toilet dulu, sebelum akhirnya bel lonceng gereja berdentang, tanda ibadah baru akan dimulai. Kupikir bakal sulit dapat tempat duduk nih kalau uda tepat pas jam 7.30. But, sekali lagi : "I am wrong. The seats are available"

Puji Tuhan ! Langsung saja aku pilih tempat duduk yang nyaman dan kebetulan tak terlalu ramai.

Ibadah dibuka dengan suatu pujian nan indah. Karya seorang Thomas O. Chisholm (1866-1960) yang digubah dengan begitu megahnya oleh sang komposer William M. Runyan (1870-1957). Pujian yang benar-benar menggambarkan pengalaman hidup sang penyair dan membandingkannya dengan besar kesetiaan Tuhan. Lagu yang begitu indah, begitu hikmat, dimainkan dengan indah melalui permainan tuts-tuts piano yang selaras dengan telinga ini.

Doa-doa ucapan syukur dinaikkan dengan penuh ucapan syukur dan haru. Tidak lupa malu. Malu karena sering sekali meragukan kesetiaan & kebesaran Tuhan. Malu karena terlalu banyak mengeluh. Malu karena sering dan selalu berdosa setiap hari. Katanya cinta Tuhan, katanya mengasihi Tuhan, tapi kok kayak gini ? Bersyukur untuk refleksi diri ketika momen pengakuan dosa tadi.

Sang MC begitu hikmat, begitu meresap dan menyatu dengan ibadah yang dipimpinnya. Membawa setiap kami semakin dalam ke dalam hadiratNya. Dengan kata-kata motivasi, intonasi nada & alur yang baik, jemaat dibawa untuk bersekutu lebih intim pada Sang Kepala Gereja.

Pujian-pujian dilantun dengan indah. Pujian paduan suara pun tidak kalah indahnya. Pesan Kristus dalam perjamuan terakhir tersampaikan melalui komposisi nada dan irama.

Tibalah saat Firman disampaikan. Firman yang begitu menegur. Firman yang mengingatkan & menuntut kita untuk memberi yang terbaik & tahu untuk bersyukur. Tapi tidak sampai disitu saja, Firman yang sama yang membimbing , menguatkan dan menyegarkan.

Bagian perjamuan kudus adalah bagian spesial dari ibadah pagi tadi. Pujian "Pimpin ke Kalvari" mengantarkan setiap jemaat untuk duduk diam, mempersiapkan hati sungguh-sungguh sebelum mengambil bagian dalam perjamuan kudus. Sementara musik dilantunkan, aku jatuh ke dalam perenungan yang cukup dalam. Kalau tidak salah ada 4 bait yang dinyanyikan :

Kumahkotai Raja Hidup,
Mulia Bagi-Mu,
Ingat Mahkota Duri-Mu,
Pimpin Ke Kalvari.

Ia Terbaring Dalam Kubur,
Murid Pun Bersedih,
Malaikat Berjubah Putih,
Jaga Di Samping-Mu.

Maria Di Pagi Hari,
Datang Ke Kubur-Mu,
Namun Kosonglah Kubur-Mu,
Engkau Telah Bangkit

'Ku Rela Segenap Hati,
Memikul Salibku,
T'rima Cawan Beserta-Mu,
Pimpin Ke Kalvari.

Reff
Tak 'Ku Lupa Getsemani,
Tak 'Ku Lupa Sengsara-Mu,
Tak Kulupakan Kasih-Mu,
Pimpin Ke Kalvari.


Pelan-pelan pikiran & hati ini mulai mencerna setiap kata yang terkandung di dalam lirik ini. Di dalam momen untuk perenungan ini, aku kembali berpikir. "Seberapa sering pengorbanan Kristus aku ingat & jadi motivasi untuk berjuang dan setia ?" Jarang, lebih sering ia hadir ketika momen Jumat Agung, Natal atau paling sering di hari Minggu. Sisanya ? Kadang ingat, kadang lupa. Seringkali pula ga tau diri. Pertanyaan kedua pun hadir : "Apakah Ku Rela Segenap Hati, Memikul Salibku ?" Jujur, tidak. Bagaimana dengan T'rima Cawan Beserta-Mu, Pimpin Ke Kalvari ? Boro-boro, lebih baik cawan ini segera berlalu atau kalau bisa ga pernah dapat cawan ini.

Bagian reff dari pujian ini, membuat aku tertunduk lesu, lidah terasa kelu. Sama sekali tak ada suara yang keluar dari tenggorokan ini. Speechless. Yang ada hanya perasaan malu, karena ga pantas menyandang predikat pengikut Kristus, lebih cocok pengikut diri. Tak suka memikul salib. Tak suka meminum cawan. Kalo pun terpaksa, mikul salib yang kecil & cawan yang sedikit aja.

Tak 'Ku Lupa Getsemani ? Tak 'Ku Lupa Sengsara-Mu ?
...

Tak Kulupakan Kasih-Mu ? Bukankah seringkali lebih mudah untuk mengeluh dan bertanya mengapa Tuhan. Bukankah lebih mudah untuk mempertanyakan kasih Tuhan ? Bagian ini pun tidak lulus ...

Pimpin Ke Kalvari ? ...

Semakin merenung, semakin menyadari diri yang rapuh ini. Diri yang masih labil. Diri yang masih sering mengerutu dan sulit mengendalikan emosi diri. Masih senang dibuai hawa nafsu. Masih suka jatuh bangun bersama musuh Tuhan. Bagaimana bisa diri seperti ini berjalan ke Kalvari ? How could ?

Tidak mungkin. Sama sekali tidak mungkin !

Kucoba beranikan diri membuka suara menyanyikan seluruh bait pujian yang megah ini. Di tengah-tengah perasaan berdosa, malu & tak layak, aku tersadar. Pujian ini tidak hanya menegur, tapi juga memberikan pengharapan dan kekuatan. Pengharapan karena Raja Hidup ini telah bangkit. Ada kuasa yang lebih besar dari belenggu dosa & maut. Kuasa yang juga diberikan pada setiap orang yang mau mengikutNya. Kuasa yang sama, yang memampukan pengikut Raja Hidup ini untuk berjalan & melewati jalan salibnya. Ada kekuatan yang ditawarkan disana. Ada Kristus yang juga menerima cawan ini, besertaku. Ada Kristus yang memikul salib ini bersama-sama denganku. Tidak ada jalan salib yang enak. Tidak ada jalan salib yang menggembirakan, yang membuat kita tertawa. Tidak ada jalan salib tanpa pengorbanan *Seperti layaknya Kristus pun demikian kita*.

Kristus tak bersalah ? Ya
Kristus disiksa ? Ya
Kristus mengeluh ? Ya.
Kristus menangis ? Ya
Kristus berteriak kesakitan ? Ya
Kristus menyerah ? Tidak


Ibadah hari ini membuat aku tersadar. Perkiraan, Perhitungan, Pengalaman, Pikiran, Rencana ku
tidak sanggup mendikte Tuhan. Tuhan terlalu besar & maha untuk bisa dibatasi dalam otak manusia yang kurang dari 1500 cc. Kalau Tuhan mau, pasti terjadi.
Pengetahuan tentang iman tidaklah cukup.
Pengalaman tentang iman pun tidaklah cukup.

Benar-benar butuh kasih karunia & anugerah.
Benar-benar butuh iman.
Benar-benar butuh pengharapan
Benar-benar butuh.




Cari Blog Lain

Program Bisnis Internet Gratis