Whether He Give Me Miracles or Not : He IS STILL GOD

"Whether He Give Me Miracles or Not : He IS STILL GOD", bukan kalimat yang mudah untuk diucapkan & diimani selama kita hidup dan berada di dunia ini. Kalimat ini tiba-tiba terlintas di tengah-tengah situasi pikiran dan tubuh yang tidak fokus dan sehat. Kondisi yang tidak ideal dan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan seringkali membuat kita kembali mempertanyakan TUHAN, entah itu otoritasNya, keadilanNya hingga kasihNya.




Sejak kecil ,kita diajarkan bahwa Tuhan itu maha baik dan maha kuasa. Ia akan memberikan apa yang kita minta melalui doa-doa yang dipanjatkan. Ia Allah yang begitu penuh perhatian dan belas kasihan sehingga Ia tidak akan begitu TEGA melihat umat ciptaanNya menderita di tengah-tengah dunia ini. Pemahaman akan Allah yang akan segera menolong dan tidak tega-an ini pelan-pelan membentuk opini & pola pikir kita. Kita ingin sesuatu, kita mau sesuatu sehingga kita berdoa dan di dalam namaNya kita percaya bahwa kita PASTI akan menerimanya.




Kita mempunyai banyak kebutuhan entah itu kebutuhan fisik (makanan,minuman,pakaian) ataupun kebutuhan non-fisik (penghargaan diri, agama, dll) yang menuntut pemenuhan atasnya. Dengan gabungan pengetahuan yang pernah kita dengar di tempat ibadah, kita mulai berpikir kalau Allah mau memberikan AnakNya yang tunggal itu, masa sih Dia tidak mau mengabulkan apa yang kita minta ? Bukannya ada tertulis di dalam kitab suci Matius 7 :7-8 yang berbunyi :



7 "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. 8 Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Ayat-ayat ini yang menjadi penguatan dan jaminan bagi sebagian besar dari kita, orang-orang percaya untuk 'menagih' pembuktian dari ayat tersebut pada Allah. Ini juga diperkuat dengan tambahan ayat-ayat 'unggulan' akan janji Allah seperti berikut :

Yoh 10 : 10b = Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.



Yer 29 : 11 = Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan


Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan bila ada orang kristen yang kemudian marah-marah ketika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada hidupnya. Sesuatu hal yang kadang-kadang kita rasa sebagai 'kesialan'. Bahkan banyak yang tidak abis mengerti pada Tuhan karena Ia sering kali memberikan "kejutan-kejutan" yang tidak diharapkan (bukan kejutan positif menurut kita tentunya).









Seringkali apa yang kita inginkan dan harapkan justru berlawanan arah dengan apa yang Tuhan inginkan. Itulah sebabnya tidak semua yang kita doakan dan inginkan itu terwujud. Kita berdoa. Kita menginginkan apa yang menurut kita itu enak, penting dan berguna bagi diri kita sendiri. Kita lebih suka melihat pembuktian secara fisik. Kita percaya dengan apa yang kita lihat. Kita tidak suka menunggu. Kita suka hal-hal yang berbau instant. Tanpa sadar akhirnya kita menguji Tuhan menurut kriteria kita sendiri. Muncul lah si logika dan si naluri dari dalam diri. Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul. Argumen-argumen berterbangan mengawal presuposisi yang memang sudah terbentuk dari awal kita percaya pada Tuhan.





"Kalo Tuhan itu baik, mengapa masih ada orang miskin di dunia ini ?"



"Mengapa masih ada orang-orang yang untuk makan saja susahnya minta ampun dan sebaliknya ada orang-orang yang terlalu kaya sehingga makannya tergantung selera dan suka menyisakan makanan begitu saja ?"





"Mengapa Tuhan begitu cepat memanggilnya ? Dia kan anak Tuhan yang rajin sekali pelayanan dan sangat cinta Tuhan. Umurnya masih begitu muda sekali ... "



"Kenapa sih hujannya mesti turun gede sekarang ? Kalo gini kan jadi telat ke gerejanya"




"Tuhan, saya ini kan sedang akan melayaniMu. Kenapa pula motor saya kempes di tengah jalan seperti ini ?"



Well, tentunya masih banyak pertanyaan yang biasanya kita tanyakan ke Tuhan menyangkut tega ato tidak teganya Pribadi Tuhan sendiri, dengan dasar pemahaman yang sudah tertanam sejak kecil bahwa Allah itu sangat baik dan sangat mengasihi kita - Kalau Ia saja merelakan Anak-Nya yang tunggal itu mati bagi kita, masakan Ia tidak memberikan apa yang kita minta.





Bukankah demikian ?





bersambung ...











Cari Blog Lain